Tahun Baru dan Ayam

Pertama, met tahun baru buat semua 😀 Gw nulis post ini dari rumah. Yep…gw mudik tahun baru 😉 untuk merasakan kegembiraan tahun baru di sekitar keluarga tersayang 😀 ceileee… hahahahaha…

Oh iya, gw mau nulis sesuatu yg sangat ga penting. Well, semua post gw di blog ini ga penting sih –layaknya ceracau orang frustrasi dengan semangat ‘Dunia harus mendengar saya!’- tapi sumpah, post kali ini jauh lebih ga penting daripada lainnya. Makanya gw ga usah repot2 pake bahasa inggrislah. Gw cuma mau cerita soal…ayam 😛

Damn…kenapa ayam?1

Jadi hari pertama di tahun 2009 ini gw sambut dengan perasaan yang meluap-luap, heroisme yang membuncah di dalam dada (d’oohhh…) dan itu semua karena…ayam. Tadi sore, gw serumah gempar dengan insiden yang sebenernya lucu. Yah agak tragis sih kalo dipikir-pikir, anjing gw menggigit ayam gw sampe berdarah-darah. Motif dari dia melakukan itu gw ga gitu jelas juga, tapi gw sih membayangkan anjing gw jatuh cinta pada ayam hitam yang digigitnya itu. Ini kedua kalinya dia menggigit si ayam, yang dulu itu untungnya ga fatal. Tapi si ayam cukup trauma dan sempat menghilang dalam kehidupan kami, dan numpang hidup pada tetangga sebelah 😛 And..she’s finally back. Mama sempet ga mengenali dia karena rupanya dia keliatan lebih muda dari sebelum dia kabur (rejuvenating break, perhaps?) tapi kami menerima kepulangannya dengan sukacita. Dan itu baru beberapa hari lalu. Kali ini entah kenapa, anjing gw memilih momen tahun baru untuk menggigit si ayam tersebut lagi. Again, gw bersikeras it was out of love. Tau kan, kayak cintanya si vampire Edward Cullen kepada Isabella Swan? ‘I love you and I wanna eat you’ kinda love. Insting primal memang selalu indah, buktinya novel Twilight jadi best-selling. Orang-orang juga pada ngantri man buat nonton filmnya! Gw ga tau sejak kapan si Bito, anjing gw memendam perasaan terindah itu pada si ayam. Mungkin udah lama, soalnya kejadian dia gigit yang pertama kali itu udah cukup lama. Damn…coba gw tau dari dulu. Mungkin gw duluan yang nulis Twilight 😛 Tokohnya anjing. Dan ayam. Do you think that will sell?

Anyway, balik ke insiden hari ini. Setelah si ayam tergigit dan berdarah-darah, gw, mama, dan kakak gw berusaha menangkapnya buat diobati. Teorinya sih gampang, dia buat jalan aja udah pincang. Tapi ternyata…dia masih sangat lincah bergerak. Kayaknya sih dia curiga dengan motif kita, siapa tau liat dia udah luka terus kita tangkap buat hidangan istimewa Tahun Baru. Asal lo tau ya ayam, kita ga serendah itu, for God’s sake! Ga logis di gw, kalo gw makan sesuatu yang gw kasi makan dari dia masih kecil. Speaking about spiritual bond, okay? Yah tapi gw sih maklum, dia kan udah trauma berat gara-gara digigit..again. You cut me open and I keep bleeding love gitu deh.

Waktu kita udah hampir menyerah, Bito kembali menghampiri si ayam yang menyebabkan dia makin histeris dan terjun ke selokan sedalam satu setengah meter. Bukan selokan sih, tapi bak pembuangan. Dulu gw piara ikan di belakang rumah2. Ada tiga kolam dan tiga bak buat nguras air, sekarang udah kosong semua. Okay, sekarang ayamnya bisa ditangkap, provided someone is willing to go down there. Biasanya situasi seperti ini ditangani oleh papa tapi rupanya beliau sedang tidak berminat terlibat dalam drama, yang mana sering terjadi dalam sebuah rumah yang dihuni oleh 3 perempuan dan hanya satu lelaki 😛 So, akhirnya gw membulatkan tekad untuk masuk ke dalam bak. Semuanya meragukan kemampuan gw untuk naik lagi, harus mengangkat badan gitu kan. Semuanya bilang ‘kita ga butuh masalah baru!’. Sepertinya mereka sudah memikirkan kalo mengeluarkan gw akan jauh lebih sulit daripada menangani si ayam (size does matter yah…*sigh*). Tapi gw tetep turun, dengan bantuan bangku kecil. Gw angkat ayamnya duluan, langsung ditangkap oleh mama buat dikasi betadine. Terus gw naik deh. Ga sulit kok. Ada gunanya juga ternyata gw rajin ngegym wakakakakaka… You know when they say, everything’s made for the big thing? This is it, all the time I put into my daily regime: doing treadmill, elliptical, cycling, swimming, and yoga. Semuanya itu untuk menyelamatkan seekor ayam malang yang patah hati. Kakak gw menyambut gw di atas dengan kalimat pujian ‘Wah..Fenfen yang jadi hero hari ini!’, ‘Aku yakin kok kalo kamu bisa, kan kamu rajin ngegym’. I take this as universe telling me ‘KEEP WORKING OUT!’ 😛

Gw tau gw ga bakal bisa nulis something like this besok kalo gw cek di kandang dan ayamnya udah mati. I really hope she survives this. Bukan karena gw mau menyelamatkan ego gw sebagai pahlawan hari ini. Bukan juga karena gw ga mau anjing gw menyandang predikat sebagai ‘chicken killer’ (udah killer, chicken lagi. Ga ada bagus-bagusnya deh…). Gw cuma pengen dia hidup sampe dia tua dan mati karena emang udah saatnya. Tolong bantu doa yah 😉

1 Ini kata-kata otentik temen gw waktu kita ke Tamansari, Jogja. Jadi ‘guide’ kita cerita soal selir-selir raja yang berenang di kolam pemandian. Raja yang menyaksikan dari atas akan melempar bunga dan selir yang berhasil mendapatkan bunga itu mendahului yang lain akan diundang untuk berenang di dalam, berdua dengan sang raja. Ehemmm… Nah di kolam dalam itu ada sebuah kandang yang konon dihuni oleh seekor ayam. Basically, si ayam menjadi saksi keintiman yang terjadi antara raja dan selir (ini kata-kata gw). Temen gw merespon dengan geram ‘Damn…kenapa ayam?’

2 Gw sumpah gw ga pernah makan ikan-ikan piaraan gw dulu. Mmmm..sekali sih dulu, waktu ada kematian massal karena kolam ikan bocor. Itu force majeur yak!!! So it doesn’t count!

Advertisements

1 Comment (+add yours?)

  1. fennychandra
    Feb 09, 2009 @ 23:33:47

    ngapdet aja, ayamnya masi idup 😛

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: